Sambil membenahi letak kerudungku, pikiranku melayang, mengenang hari-hariku di pondok Al-Ihsan. Huh... penjara suci yang menyebalkan! Banyak larangan seperti: nggak boleh ketemu ama orang bukan muhrim, nggak boleh pake baju pendek, nggak boleh jajan di luar, dll. Bahkan kehidupan di pondok nggak sehat banget, misalnya: kurangnya asupan gizi, tidur kaya ikan pindang siap jual, mandi harus cepet-cepet jadi gak bersih, de el el. Pokoknya semua aturan yang ada bikin aku -- seorang anak ABG -- merasa tertekan dan nggak bebas.
Udah deh, lupaian masa lalu. Yang penting aku sudah pindah dari sana. Sekarang aku sekolah di Jakarta, di SMUN 45 (sekolah favorit euy..) fasilitasnya lengkap, halamannya luas, muridnya pintar-pintar, dan satu lagi, anaknya gaul-gaul. Jangan bandingin ama lingkungan pondok deh! Beda jauh... hehehe.
Hari kedua ini aku lebih merasa PD dari kemarin. Mungkin kabar tentang kedatanganku sebagai murid baru hampir-hampir sudah menyebar ke seluruh antero sekolah ini. Makanya, pada masa penjajakan seperti ini, aku kudu tampil oke, supel, ramah, dan yang baik-baik dah. Sempat aku bertanyta-tanya, apakah jilbabku ini akan menghalangi kebebasanku bergaul nanti? Tapi bagaimanapun juga nggak mungkin bagiku menanggalkan jilbab ini. Yah ingetlah setahun aku sekolah dimana? Lagi-lagi masalah penjara suci.
Aku melangkah menyusuri koridor-koridor bangunan menuju kelas XI-IPA. Melihat segerombolan cowok-cowok di ujung koridor itu mengingatkanku pada dengan lima cowok yang pernah menyapaku dengan sebutan “sweety” di halaman sekolah, kemarin. Awalnya mereka meminta berkenalan. Karena takut dikira sombong, aku menyebut namaku dan membalas uluran tangannya untuk berjabat tangan. Sampai di cowok yang ketiga, jemariku yang berada dalam genggamannya tidak segera dilepaskan. Dia menatapku seperti sedang menatap ayam panggang gratisan. Lama-lama aku risih dengan pandangan mata seperti itu, segera kutepis jemarinya. Lalu tidak ada yang aneh dengan cowok yang lain. Karena itu aku tidak berpikir yang aneh-aneh juga. Aku anggap wajarlah, inikan sekolah umum bukan pondok, guys!
Lamunanku buyar oleh bau khas tembakau yang tercium di hidungku. Baunya sangat pekat berasal dari kelasku. Aku mengintip dari lubang jendela. Bagaimana tidak, sedikitnya tiga batang rokok disulut dan dihisap secara bergantian oleh banyak cowok yang sedang nongkrong di atas bangku. Bu Monik yang mengajar pada jam kesatu dan kedua tidak hadir Bagaimana bisa pelajar bebas merokok di kelas tanpa ada yang protes?, pikirku heran. karena tidak mungkin kantor guru yang terletak tidak jauh dari kelasku itu tidak mencium bau ini.
Mereka semua sudah berhenti merokok namun bau asapnya masih mengepul. Setelah lama menutup indra pembauku dengan ujung kerudung, lama-lama aku tak tahan juga. Kuputuskan untuk ke kamar mandi.
Tiba di lantai satu, aku jadi sedikit bingung, yang manakah belokan yang menuju kamar mandi?. Aku hanya mengikuti naluriku hingga terdengar suara sesenggukan seorang gadis. Penasaranku menggelora. Ada apa? Siapa? Dimana? Kenapa?
Isakan itu makin jelas ketika langkahku merayap menuju pintu ruangan yang gaya peletakannya suram tampak kayak gudang. Kugeser pintunya, dengan sedikit bantuan cahaya matahari yang menembus ruangan itu aku bisa melihat seorang gadis mengenakan seragam putih abu-abu seperti punyaku sedang terduduk lemas, paras eloknya dibasahi air mata dan keringat. Sambil memegangi perutnya, dia terlihat resah dan putus asa.
Hampir saja aku masuk ke dalam ruangan suram itu kalau aku tidak melihat ada seseorang disampingnya. Seorang cowok yang juga berabu-abu putih tampak berniat ingin menenangkan si gadis. Membelai rambut panjangnya sambil sesekali mengusap air matanya. Disela-sela isak si gadis, aku bisa mendengar si cowok berbicara. Aku makin penasaran dan menajamkan pendengaran.
“Udah... diem dulu dong. Aku nggak bakal ninggalin kamu. Kamu tenang aja aku bakal tanggung jawab .”
“Tanggung jawab gimana?”
“Pokoknya aku nggak bakal diem atas perbuatanku.”
“Perutku makin besar. Kaya’nya aku bener-bener positif...”
PRAAK!! Gara-gara berdiri terlalu mepet dinding. Tiga buah sapu yang bersandar di dinding pun terjatuh.
“Siapa itu?” teriak si cowok.
Tanpa pikir panjang aku segera mengambil langkah seribu, kabur dari situ. Apalagi aku berpikiran kalau si cowok itu bakal mengejar orang yang mengetahui rahasianya.
Napasku berburu. Aku melihat tulisan “toilet” di pintu yang sedang terbuka. Masuk dan mengunci pintunya. Pikiranku kacau nggak bisa percaya apa yang berusan aku lihat dan dengar.
Apa yang kudu aku lakuin...
Lapor? Atau justru pura-pura tidak tahu?
Perasaanku bergetar hebat. Buta! Tuli! Aku nggak bisa berpikir jernih. Aku hanya tau kalau aku harus segera memutuskan sesuatu....
( Ho-Ly )
*Rubrik cerkak kali ini memberi kesempatan kepada para havers untuk menuangkan idenya dengan meneruskan kisah”Dibalik Pintu” ini.
*Bagi 1 pengirim terbaik karyanya, bakal dimuat n mendapatkan hadiah menarik.
welcome, prend!!!
okey bro....
welcome to my site...
blog ne mank lage proses, masih amatir.an,, tp gw harap loe iza nikmati ne blog..........
link kapanlagi ne..!!!
Rabu, 25 November 2009
Rubrik Iptek : NGENET PAKE WAJAN
Waaaahhh….ngenet pake
wajan????? Ga salah tuh??? Pasti itu kata pertama yang terbesit di
dalam hati Havers, iya kann??
Pertanyaan
kedua yang segera menyusul pasti, emang bisa ngenet pake wajan???
Kaya orang mau masak aja!!!!! Atau gak,
pasti Havers nyangkanya ini buat guyonan! Padahal wajan tuh memang
bisa digunakan sebagai sarana untuk ngenet, yaitu dengan
memanfaatkannya sebagai penangkap sinyal wifi.
Pasti Havers penasaran kan, darimana penemunya mendapat insipirasi
yang amat unik ini, ya kan???? Ok.... semua ini akan terpaparkan di
bawah ini.
Awalnya,
sang penemu mendapatkan ide ini ketika ia melihat antena TV yang
terbuat dari alumunium, yang dapat menangkap saluran-saluran TV.
Kemudian, ketika ia melihat orang-orang kampung menggunakan panci di
kepalanya untuk membuat TV menjadi lebih jernih. Nah, dari situlah
awal tercetusnya ide ini. Karena ia berpikir, kalau gelombang saluran
TV dapat diterima melalui hal yang sederhana seperti wajan, pasti
gelombang wifipun
bisa, hanya saja perlu dimodifikasi sedikit, agar gelombang yang
sudah kita tangkap bisa menjadi data kembali, yang artinya kita
gunakan menjadi internet kembali.
Tapi,
ternyata untuk menikmati ini semua kita
juga harus menyiapkan bahan-bahan lain seperti:
a.
Ada hotspot atau tempat yang menggunakan internet memakai sistem
wireless.
Sehingga dari hotspot itulah kita masuk untuk menggunakan internet.
b.
Jarak wajan kalian dengan hotspot tidaklah sangat jauh, kira – kira
1 hingga 2 km. Kalau semakin jauh, kalian harus menambah diameter
wajannya.
c.
Hotspot yang kalian tangkap gratis. Artinya tidak dikunci oleh
penyebar hotspot itu, yang artinya tidak ada gambar gembok di gambar
sinyal hotspot di komputer.
d.
Hotspot dan wajan kalian tidak terhalang bangunan tebal dan pepohonan
yang rapat. Artinya tanpa halangan itu lebih baik.
Oh
iya, temen – temen juga harus menyiapkan modal.
Disini kalian perlu membeli alat – alatnya donk. Yang paling mahal
adalah WLAN USB dan yang paling penting adalah tekad pantang
menyerah. Ilmu itu absolut alias pasti dan WIRELESS
WAJAN ini sudah terbukti oleh banyak
orang secara teoritis dan prakteknya. Bila tidak bisa berarti
kemungkinan kesalahan ada pada cara membuatnya, atau alat yang kurang
tepat, bukan pada ilmunya. Sehingga cobalah analisis, tahap mana yang
membuat kalian gagal.
Okey.....
havers mania.. gampang kan???? Ga ada
susahnya kan nambah kreatifitas dikit?? Moga aja ini bermanfaat buat
Havers semua... met nyoba, Guyzzz!!! (sa2 n dhien)
rubrik "Hanief" : SUMPAH KAFARAT
Wah.. pernahkah Havers mendengar banyak orang dengan mudahnya bersumpah untuk suatu hal yang terkadang tidak begitu serius dan tidak penting? Hmmmm.. semua itu perlu ditelaah lebih lanjut, karena sumpah tidak dapat digunakan untuk hal yang main-main. Sumpah kafarat ialah sumpah yang mengandung kafarat, sehingga wajib untuk dipertanggung jawabkan.
Sumpah kafarat hukumnya wajib apabila memenuhi 4 masalah, yaitu:
Sengaja bersumpah (Laghwu Yamin)
Biasanya, ketika kita sedang asyik ngobrol dengan teman, terkadang kita menyebutkan sumpah untuk sesuatu yang tidak begitu penting. Misalnya ketika kita bercerita sesuatu, kemudian kita dengan mudah mengatakan, ”Nggak kok, demi Allah!” ataupun ”Pasti, demi Allah!”. Ketika semua sumpah itu terucap, maka hukumnya tidak sah.
Yamin Ghanus
Yakni bersumpah tentang sesuatu yang akan datang ataupun yang telah lalu, menyangka dirinya benar, ataupun kita berbohong sedangkan kita mengetahui kebenarannya. Ataupun kita bersumpah tentang sesuatu yang akan datang, tetapi kenyataannya meleset. Misalnya ketika kita melihat pencuri, kemudian pencuri itu tahu bahwa kita menyaksikannya mencuri. Lalu ia mengancam dan kita pun menurutinya dengan mengatakan bahwa kita tidak tahu siapa pelakunya.
Melanggar sumpah dengan melakukan sesuatu.
Misalnya kita telah bersumpah untuk tidak berbohong, ternyata kita melanggarnya. Maka dengan sumpah tersebut kita harus menanggung kafaratnya.
Bersumpah dengan kemauan sendiri tanpa alasan
Biasanya para remaja dengan mudah mengeluarkan ucapan sumpah tanpa sebab dan tujuan yang jelas. Misalnya ketika sedang berbincang, lalu berkata “sumpah rek, aku lho belum ngerjain PR!!”. Maka dari itu, janganlah kita asal bersumpah tanpa alasan.
Nah, oleh karena itu kita harus mengerti bagaimana ketentuan kafarat dari sumpah-sumpah tersebut. Kafarat dari sumpah ada beberapa, yaitu:
Memberi makan pada 10 orang miskin, dimana setiap orangnya diberi ½ sha’ (1 ½ kg) makanan pokok ataupun beras.
Memberi pakaian layak.
Memerdekakan hamba sahaya.
Dari ketentuan di atas, apabila ada yang tidak mampu melaksanakannya, maka dapat menggantinya dengan melaksanakan puasa selama tiga hari berturut-turut. Membayar kafaratnya dilakukan setelah ataupun sebelum bersumpah. Namun apabila ia memilih berpuasa, padahal ia mampu melaksanakan kafarat, maka tanggung jawabnya dianggap belum selesai. Dan apabila ada yang bersumpah lebih dari satu kali dalam masalah yang sama, maka membayar kafaratnya hanya sekali saja. Namun apabila dari bermacam-macam masalah atau masalah yang berbeda-beda, maka membayar kafaratnya sebanyak masalah tersebut.
Selain sumpah yang mengandung kafarat di atas, apabila kita melakukan sumpah dengan pengecualian, yakni:
Pengecualian tersebut berhubungan langsung dengan sumpah.
Bersumpah dengan sengaja menggantungkanya, misalnya ”Demi Allah, jika Allah berkehendak”.
Apabila bersumpah namun kebaikannya berbeda dengan apa yang disumpahkan.
Apabila semua pengecualian di atas terjadi, maka sunnnah baginya untuk membayar kafarat dan melakukan apa yang dia anggap lebih baik.(sa2 n queen)
Langganan:
Postingan (Atom)
