about me

Foto saya
BojOnegOro CitY, suRobOyo, Indonesia
gw anak Madrasah Bertaraf Internasional, 16thn..... Lge maw msuk hobby nuliz.... sbnerx males bgd clo d'suruuh nulIz2 gne.... tpi cz gw nag.x mank ga' mdah curhat k org laen so ya gne jadix.......crhat pke tlisan.....

search, bro!

welcome, prend!!!

okey bro....

welcome to my site...

blog ne mank lage proses, masih amatir.an,, tp gw harap loe iza nikmati ne blog..........

link kapanlagi ne..!!!

Rabu, 25 November 2009

Di balik Pintu ...

Sambil membenahi letak kerudungku, pikiranku melayang, mengenang hari-hariku di pondok Al-Ihsan. Huh... penjara suci yang menyebalkan! Banyak larangan seperti: nggak boleh ketemu ama orang bukan muhrim, nggak boleh pake baju pendek, nggak boleh jajan di luar, dll. Bahkan kehidupan di pondok nggak sehat banget, misalnya: kurangnya asupan gizi, tidur kaya ikan pindang siap jual, mandi harus cepet-cepet jadi gak bersih, de el el. Pokoknya semua aturan yang ada bikin aku -- seorang anak ABG -- merasa tertekan dan nggak bebas.
Udah deh, lupaian masa lalu. Yang penting aku sudah pindah dari sana. Sekarang aku sekolah di Jakarta, di SMUN 45 (sekolah favorit euy..) fasilitasnya lengkap, halamannya luas, muridnya pintar-pintar, dan satu lagi, anaknya gaul-gaul. Jangan bandingin ama lingkungan pondok deh! Beda jauh... hehehe.
Hari kedua ini aku lebih merasa PD dari kemarin. Mungkin kabar tentang kedatanganku sebagai murid baru hampir-hampir sudah menyebar ke seluruh antero sekolah ini. Makanya, pada masa penjajakan seperti ini, aku kudu tampil oke, supel, ramah, dan yang baik-baik dah. Sempat aku bertanyta-tanya, apakah jilbabku ini akan menghalangi kebebasanku bergaul nanti? Tapi bagaimanapun juga nggak mungkin bagiku menanggalkan jilbab ini. Yah ingetlah setahun aku sekolah dimana? Lagi-lagi masalah penjara suci.
Aku melangkah menyusuri koridor-koridor bangunan menuju kelas XI-IPA. Melihat segerombolan cowok-cowok di ujung koridor itu mengingatkanku pada dengan lima cowok yang pernah menyapaku dengan sebutan “sweety” di halaman sekolah, kemarin. Awalnya mereka meminta berkenalan. Karena takut dikira sombong, aku menyebut namaku dan membalas uluran tangannya untuk berjabat tangan. Sampai di cowok yang ketiga, jemariku yang berada dalam genggamannya tidak segera dilepaskan. Dia menatapku seperti sedang menatap ayam panggang gratisan. Lama-lama aku risih dengan pandangan mata seperti itu, segera kutepis jemarinya. Lalu tidak ada yang aneh dengan cowok yang lain. Karena itu aku tidak berpikir yang aneh-aneh juga. Aku anggap wajarlah, inikan sekolah umum bukan pondok, guys!
Lamunanku buyar oleh bau khas tembakau yang tercium di hidungku. Baunya sangat pekat berasal dari kelasku. Aku mengintip dari lubang jendela. Bagaimana tidak, sedikitnya tiga batang rokok disulut dan dihisap secara bergantian oleh banyak cowok yang sedang nongkrong di atas bangku. Bu Monik yang mengajar pada jam kesatu dan kedua tidak hadir Bagaimana bisa pelajar bebas merokok di kelas tanpa ada yang protes?, pikirku heran. karena tidak mungkin kantor guru yang terletak tidak jauh dari kelasku itu tidak mencium bau ini.
Mereka semua sudah berhenti merokok namun bau asapnya masih mengepul. Setelah lama menutup indra pembauku dengan ujung kerudung, lama-lama aku tak tahan juga. Kuputuskan untuk ke kamar mandi.
Tiba di lantai satu, aku jadi sedikit bingung, yang manakah belokan yang menuju kamar mandi?. Aku hanya mengikuti naluriku hingga terdengar suara sesenggukan seorang gadis. Penasaranku menggelora. Ada apa? Siapa? Dimana? Kenapa?
Isakan itu makin jelas ketika langkahku merayap menuju pintu ruangan yang gaya peletakannya suram tampak kayak gudang. Kugeser pintunya, dengan sedikit bantuan cahaya matahari yang menembus ruangan itu aku bisa melihat seorang gadis mengenakan seragam putih abu-abu seperti punyaku sedang terduduk lemas, paras eloknya dibasahi air mata dan keringat. Sambil memegangi perutnya, dia terlihat resah dan putus asa.
Hampir saja aku masuk ke dalam ruangan suram itu kalau aku tidak melihat ada seseorang disampingnya. Seorang cowok yang juga berabu-abu putih tampak berniat ingin menenangkan si gadis. Membelai rambut panjangnya sambil sesekali mengusap air matanya. Disela-sela isak si gadis, aku bisa mendengar si cowok berbicara. Aku makin penasaran dan menajamkan pendengaran.
“Udah... diem dulu dong. Aku nggak bakal ninggalin kamu. Kamu tenang aja aku bakal tanggung jawab .”
“Tanggung jawab gimana?”
“Pokoknya aku nggak bakal diem atas perbuatanku.”
“Perutku makin besar. Kaya’nya aku bener-bener positif...”
PRAAK!! Gara-gara berdiri terlalu mepet dinding. Tiga buah sapu yang bersandar di dinding pun terjatuh.
“Siapa itu?” teriak si cowok.
Tanpa pikir panjang aku segera mengambil langkah seribu, kabur dari situ. Apalagi aku berpikiran kalau si cowok itu bakal mengejar orang yang mengetahui rahasianya.
Napasku berburu. Aku melihat tulisan “toilet” di pintu yang sedang terbuka. Masuk dan mengunci pintunya. Pikiranku kacau nggak bisa percaya apa yang berusan aku lihat dan dengar.
Apa yang kudu aku lakuin...
Lapor? Atau justru pura-pura tidak tahu?
Perasaanku bergetar hebat. Buta! Tuli! Aku nggak bisa berpikir jernih. Aku hanya tau kalau aku harus segera memutuskan sesuatu....
( Ho-Ly )

*Rubrik cerkak kali ini memberi kesempatan kepada para havers untuk menuangkan idenya dengan meneruskan kisah”Dibalik Pintu” ini.
*Bagi 1 pengirim terbaik karyanya, bakal dimuat n mendapatkan hadiah menarik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar